Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islami. Tampilkan semua postingan

Setiap Kesulitan Terkandung Pahala

Posted by Unknown Senin, 07 September 2015 1 komentar
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.

Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu turun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.

Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.

Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia turun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.

Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?

Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”

“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.

Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?

Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Sumber: republika.co.id/

Baca Selengkapnya ....

Kaya Bahagia, Miskin Mulia

Posted by Unknown Kamis, 26 Februari 2015 0 komentar
Pada suatu hari, serombongan fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkatan yang paling tinggi sekalipun.”

Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian?" Lalu, meraka pun berujar, "Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan seperti mereka. Mereka memerdekakan budak sahaya sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu."

Setelah mendengar keluhan orang fakir tadi, Rasulullah SAW tersenyum lantas berusaha menghibur sang fakir dengan sebuah hadis motivasi. Dengan sabdanya, Rasulullah SAW berusaha membesarkan hati mereka. "Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?"

Dengan sangat antusias, mereka pun menjawab, "Baiklah, ya Rasulullah." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Bacalah 'subhanallah', 'Allahu akbar', dan 'alhamdulillah' setiap selesai shalat masing-masing 33 kali." Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.

Tak lama berselang, setelah beberapa hari berlalu, para fakir miskin itu kembali menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya itu mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami." Maka, Nabi SAW bersabda, "Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki." (QS an-Nur [24]: 38).

Sungguh agung perilaku si miskin dan si kaya yang kita dapati dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim di atas. Keduanya memiliki sifat yang begitu mulia, saling berlomba-lomba dalam setiap kebaikan.

Si kaya yang beruntung dengan dikaruniai limpahan rezeki tidak menjadikannya bak si Qorun yang takabur dan bakhil. Ia sadar betul semua itu hanyalah titipan dari Allah SWT yang mesti digunakan di jalan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan-Nya.
Kekayaan tidak menjadikannya lupa daratan, tapi menyadarkannya untuk lebih bederma karena di dalamnya begitu banyak hak orang lain yang mesti ditunaikan.

Begitu pula dengan potret si miskin yang tidak mau kalah beramal. Ia selalu mencari solusi untuk bersaing secara sehat untuk mencari keunggulan dalam beribadah, sadar akan ketidakberuntungan materi tidak menjadikannya patah arang untuk memberikan pengabdian terbaik bagi Allah SWT.

Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Namun, yang terpenting adalah kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT setelah diberi ketentuan satu di antara keduanya.( Agus Taufik Rahman)


Baca Selengkapnya ....

Hilangnya Hafalan 30 Juz

Posted by Unknown Sabtu, 21 Februari 2015 0 komentar
Dulunya Ia Hafal 30 Juz, Semua Hilang Tak Tersisa Kecuali 2 Ayat Saja.
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi'in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya...???
Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..?? Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantulkan cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati 'Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.
Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, "Dimana Al Quranmu yang dulu???"
Ia menjawab, "Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :

"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
(QS. Al Hijr: 2-3)
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (muttafaq ‘alaih).
**Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dari buku "Di bawah Kilatan Pedang" (101 Kisah Heroik Mujahidin)

Baca Selengkapnya ....

Kisah Malaikat, Orang Lepra, Botak, dan Buta

Posted by Unknown Jumat, 14 Juni 2013 0 komentar
Bismillahirrahmaanirrahiim,
Kali ini mari saya angkat kisah yang cukup menginspirasi dari hadits Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah ra bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. 

Allah mengirim malaikat untuk menguji tiga orang yang cacat tersebut.  Pertama Malaikat  datang  pada penderita lepra.

”Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?” Tanya Malaikat.

Si lepra menjawab, “Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.”

Malaikat mengusap penderita lepra  dan hilanglah penyakit yang dideritanya.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Ia menjawab, 'Unta atau sapi.” Maka diberilah ia seekor unta yang bunting.

Malaikat kemudian mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?”

Si botak menjawab, “Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.“ Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Kekayaan apa yang paling kamu senangi?”

“Sapi atau unta,“ jawab si botak. Maka diberilah ia seekor sapi bunting.

Malaikat kemudian mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling kamu inginkan?”

Si buta menjawab, “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.” Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya.

Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, “Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?” Jawabnya, “Kambing.” Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu telah berlalu. Ketiga orang itu telah maju. Ternak mereka telah berkembang biak.  Hingga datanglah Malaikat itu menyerupai penderita lepra.

“Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rezeki) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor unta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.” 

Namun jawaban si lepra begitu mengejutkan, “Hak-hakku (tanggunganku) banyak.”

Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata kepadanya, “Sepertinya aku mengenal Anda. Bukankah Anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada Anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?”

Dia malah menjawab, “Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.” Maka Malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika Anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan Anda kepada keadaan Anda semula.”

Malaikat kemudian mendatangi orang yang sebelumnya botak dan berkata sebagaimana ia katakan pada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka si malaikat berdoa dengan doa yang sama sebagaimana orang pertama.

Terakhir, si Malaikat mendatangi orang yang sebelumnya pernah buta. “Aku seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan Anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.”

Orang itu menjawab, “Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang Anda sukai dan tinggalkan apa yang Anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit Anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah Anda ambil karena Allah.”

Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, “Peganglah kekayaan Anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada Anda, dan murka kepada kedua teman Anda."

Kisah orang-orang kufur ini diambil dari Hadistyang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab “Ahaditsil Anbiya”, bab hadis tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di Bani Israil (6/500 no. 3464). Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitab “Iman wan Nudzur”, (11/540), no. 6653.

Dari kisah di atas tersebut, pernahkah kita mengalami hal mirip dengan kejadian di atas?. Pernahkah kita merenung sejenak apakah mereka yang meminta pertolongan kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat yang sedang menguji kita, ataukah orang-orang yang menolong kita itu benar-benar manusia ataukah malaikat-malaikat yang dikirim oleh Allah untuk menolong kita.

Coba kita ingat-ingat sejenak mereka yang menolong kita, apa benar mereka itu tetangga kita, saudara kita, teman sejawat yang kita kenal, para pejabat yang ditugaskan, pedagang yang sedang lewat, nenek yang berwajah ramah ataukah mereka jelmaan dari para malaikat-malaikat Allah?

Begitu pula orang-orang yang pernah kita tolong, benarkah mereka itu manusia?. Wallahu ‘alam, kita tidak pernah mengetahuinya secara pasti. Tapi jika kita simak Surat Al Anfaal, 8 : 9. "(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-NYA bagimu : “sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”

Allah SWT akan menolong kita dengan mengirimkan pertolongan 1.000 malaikat yang akan datang kepada kita. dan kita pun mengetahui bahwa malaikat dapat berubah bentuk menjadi entah siapa, juga dalam bentuk entah apa. Namun hati-hati sahabat, ingatkah juga kita kepada orang-orang yang kita pernah menolak memberikan pertolongan kepadanya?

Benarkah mereka hanya pengemis biasa, anak-anak yatim dhuafa, tetangga yang sedang berkesusahan, atau boleh jadi mereka adalah jelmaan malaikat yang sedang Allah utus untuk menguji kita semua.
Wallahu A’lam bish shawwaab.

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi Allah SWT adalah yang mengamalkannya.(Oleh. Erick Yusuf)


Baca Selengkapnya ....

Salihah

Posted by Unknown Rabu, 05 Juni 2013 0 komentar
Suatu ketika, Haulah binti Tsa’labah mengadukan pertikaian dengan suaminya Aus bin Shamith kepada Rasulullah saw. Menurut dia, suaminya pernah mengatakan kalau dirinya seperti punggung ibu suaminya.

Hal itu diadukan Haulah sebagai perilaku buruk suaminya. Setelah mendengar berita itu, Rasul pun berkata, “Suruh suamimu agar membebaskan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut.”

“Suamiku sudah tua renta dan kemungkinan dia tidak mampu berpuasa,” jawab Haulah. “Kalau begitu, suruhlah untuk memberi makan 60 orang miskin dengan satu orang satu shaq kurma,” ujar Rasul kepada wanita pengadu.

“Suamiku tidak memiliki kurma sebanyak itu Rasulullah,” tegas Haulah. “Kalau bagitu, saya akan membantunya sebagian,” kata Rasul.

“Dan, aku pun nanti akan membantunya sebagian lagi,” Haulah melanjutkan. “Kamu adalah wanita yang baik, pulanglah dan sedekahilah suamimu. Dan jangan lupa, nasihatilah dia,” imbau Rasul. Lalu, Haulah pun pulang dan segera melaksanakan pesan Rasulullah.

Petikan cerita Haulah menggambarkan bagaimana pola seorang perempuan yang sudah merasakan sakit hati karena telah dihina oleh suami.

Secara umum, biasanya hinaan tersebut akan disambut pula dengan hinaan, sehingga terjadi saling menghina. Ataupun, istri diam saja, tetapi berencana untuk menikam dari belakang.

Problematika demikian terbukti adanya. Sering terjadi konflik dalam rumah tangga hanya karena saling menghina serta berkata kasar dan tidak senonoh.

Meskipun sekadar salah memilih kata, hal itu bisa berpotensi menimbulkan perpisahan rumah tangga. Namun, Haulah memberikan contoh perilaku yang berbeda.

Dirinya dengan senang hati mengadukan permasalahan pribadinya kepada Rasulullah untuk meminta pencerahan. Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dijadikan referensi dari langkah Haulah.

Pertama, dia mampu membingkai sakit hatinya dengan kebijakan. Kedua, Haulah berlaku positif serta egaliter dalam menyikapi pertikaian dengan suaminya.

Kedua hal itu seperti dikonsepkan Islam sebagai ciri seorang salihah. Haulah mau berupaya taat dan mampu menyelesaikan segala permasalahan, kemudian mencari solusi bersama (QS 4:34).

Di sisi lain, suami juga mestinya tidak serta-merta mengerdilkan langkah istri. Sebab, hal yang menjadi dasar untuk menemukah islah bukanlah saling mengadu kekuatan, tetapi saling memahami di antara keduanya.

Allah SWT menegaskan pada suami, jika suatu saat seorang suami membenci istrinya, sebaiknya ia bersabar terlebih dahulu.

Bisa saja Allah akan menjadikan istrinya itu sebagai sumber kebaikan (QS 4:19). Menurut Imam Shawi, kejelekan yang ada dalam diri istri nantinya bisa saja menjadi cikal-bakal lahirnya generasi yang lebih baik.

Pada intinya, yang harus dibangun lebih awal sebagai pondasi adalah kesadaran antara suami dan istri. Kemudian, terjadi mufakat di antara keduanya berdasarkan cinta dan barulah terwujud keadaan harmonis di antara suami dan istri.  Wallahu’alam. ( Oleh: Khoriul Anwar Afa)


Baca Selengkapnya ....

Nasihat Arab Badui

Posted by Unknown Senin, 03 Juni 2013 1 komentar
Seorang Arab Badui pulang dari pengembaraannya. Tidak lama kemudian, Abu Ja’far al-Manshur, seorang Khalifah Abasiyah, memanggilnya. Arab Badui ini diminta untuk bercerita tentang kesan perjalanannya. Khalifah pemoles Baghdad ini bermaksud untuk memastikan bahwa tiada yang semegah Baghdad. 

“Benar!” demikian kesan lelaki Badui yang polos ini. “Baghdad megah, tapi angker. Rajanya sulit ditemui!” Dilanjutkanlah kisah perjalanannya itu dengan membandingkan Chang-an, ibu kota Cina, di mana ia sempat sangat lama berkunjung. “Kotanya rapi, kaisarnya sudah tua namun bijaksana.”

Dengan bersemangat, si Arab Badui ini terus melanjutkan kisahnya. Ketika semakin uzur, kaisar ini mulai kehilangan daya dengar. Dia mulai tuli dan teramat sedih yang mendalam. Para menteri menghiburnya. “Aku sedih bukan meratapi diri, wahai para menteriku,” ujar Kaisar, “aku menyesal sebab kini tidak lagi bisa mendengar langsung keluhan rakyat.”

Sejak saat itu, Sang Kaisar rajin bertandu mengelilingi dan blusukan ke tempat-tempat yang tak terjangkau. Sementara urusan pemerintahan diserahkan kepada salah seorang menteri terbaiknya yang lalu diangkat menjadi perdana menteri (Chen Xiang). Lalu apa yang dikerjakan Sang Kaisar tua ini?

Sang Kaisar semakin tak terkendali dalam “aksi unik”-nya ini. Ia masuk kampung keluar kampung. Rajin dia mendengar keluhan rakyat sekaligus menyemangati mereka. Karena pendengarannya lemah, Kaisar menitahkan agar yang ingin mengajukan masalah, mengenakan pakaian merah dan menuliskannya dalam secarik kertas. 

Atas titahnya, tim khusus kekaisaran segera menindaklanjuti setiap aduan sesuai tingkat pengambil kebijakan, desa hingga pusat. Atas perbuatan kaisar ini, terilhamilah rakyat; baca tulis meningkat, kinerja semakin bersemangat, pemerintahan tertata, dan pada akhirnya Dinasti Tang semakin jaya.

Nah, kesimpulan si Badui ini pada al-Manshur, “Amirul Mukminin tentu lebih berhak melakukan semua hal indah itu dari pada Kaisar Cina. Sebab, Kaisar itu melakukannya demi kemaslahatan dunia. Sementara engkau adalah pemimpin yang dibimbing Alquran dan sunah, di dunia hingga akhirat.”

Seperti kita tahu, Baghdad di masa Abu Ja’far adalah kota terbesar di dunia dengan penduduk tiga juta jiwa. Terbesar kedua setelah Chang-an, ibu kota Dinasti Tang. Puncak Baghdad, tempat tinggal sang penguasa, menjulang tinggi di tengah kota; untuk sampai ke ruang Sang Khalifah, harus melewati 40 lapis penjaga. 

Sementara kepribadian Abu Ja’far, tertulis dengan berlumur darah tinta sejarah. Bengis dan tidak berperikemanusiaan. “Aku takut terciprati darah Ibnu Thawus saat kami bertiga diinterogasi al-Manshour (Abu Ja’far),” ujar Imam Malik menuturkan  tentang kisahnya saat dipanggil bersama Abu Hanifah dan Ibnu Thawus al-Yamani. 

Bagaimana dengan kepemimpinan di negeri ini? Jika tidak ingin tersinggung oleh nasihat Arab Badui atau nanti kotor dalam tinta sejarah, ‘amalan’ Kaisar Chang-an boleh ditiru. Wallahu a’lam. 
(Oleh: Ustaz M Arifin Ilham)



Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of ALI SHOLIHIN'S BLOG.