Tampilkan postingan dengan label Kebun Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebun Hikmah. Tampilkan semua postingan

Setiap Kesulitan Terkandung Pahala

Posted by Unknown Senin, 07 September 2015 1 komentar
Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita tentang pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan lelaki tersebut betul-betul telah kering.

Lelaki ini terus melangkah meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan sebuah sumur, lalu turun dan meminum air di dalamnya. Air yang mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu. Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.

Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya sedang berdiri seekor anjing dengan muka memelas. Napasnya kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. “Anjing ini pasti mengalami dahaga sangat seperti yang telah aku derita,” kata si lelaki.

Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat itu tak mugkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah mencelakakanya. Seketika ia turun kembali ke dalam sumur. Sepatunya ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.

Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?

Rasulullah berkata, “Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?”

“Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala,” sahut Nabi.

Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?

Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci, melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar, “Irhamû man fil ardl yarhamkum man fis samâ’ (sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.”
Sumber: republika.co.id/

Baca Selengkapnya ....

Kaya Bahagia, Miskin Mulia

Posted by Unknown Kamis, 26 Februari 2015 0 komentar
Pada suatu hari, serombongan fakir miskin dari sahabat Muhajirin datang mengeluh kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala hingga tingkatan yang paling tinggi sekalipun.”

Nabi SAW bertanya, "Mengapa engkau berkata demikian?" Lalu, meraka pun berujar, "Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, tapi giliran saat mereka bersedekah, kami tidak kuasa melakukan amalan seperti mereka. Mereka memerdekakan budak sahaya sedangkan kami tidak memiliki kemampuan melakukan itu."

Setelah mendengar keluhan orang fakir tadi, Rasulullah SAW tersenyum lantas berusaha menghibur sang fakir dengan sebuah hadis motivasi. Dengan sabdanya, Rasulullah SAW berusaha membesarkan hati mereka. "Wahai sahabatku, sukakah aku ajarkan kepadamu amal perbuatan yang dapat mengejar mereka dan tidak seorang pun yang lebih utama dari kamu kecuali yang berbuat seperti perbuatanmu?"

Dengan sangat antusias, mereka pun menjawab, "Baiklah, ya Rasulullah." Kemudian, Nabi SAW bersabda, "Bacalah 'subhanallah', 'Allahu akbar', dan 'alhamdulillah' setiap selesai shalat masing-masing 33 kali." Setelah menerima wasiat Rasulullah SAW, mereka pun pulang untuk mengamalkannya.

Tak lama berselang, setelah beberapa hari berlalu, para fakir miskin itu kembali menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, saudara-saudara kami orang kaya itu mendengar perbuatan kami, lalu mereka serentak berbuat sebagaimana perbuatan kami." Maka, Nabi SAW bersabda, "Itulah karunia Allah SWT yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki." (QS an-Nur [24]: 38).

Sungguh agung perilaku si miskin dan si kaya yang kita dapati dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim di atas. Keduanya memiliki sifat yang begitu mulia, saling berlomba-lomba dalam setiap kebaikan.

Si kaya yang beruntung dengan dikaruniai limpahan rezeki tidak menjadikannya bak si Qorun yang takabur dan bakhil. Ia sadar betul semua itu hanyalah titipan dari Allah SWT yang mesti digunakan di jalan yang semata-mata hanya untuk mencari keridhaan-Nya.
Kekayaan tidak menjadikannya lupa daratan, tapi menyadarkannya untuk lebih bederma karena di dalamnya begitu banyak hak orang lain yang mesti ditunaikan.

Begitu pula dengan potret si miskin yang tidak mau kalah beramal. Ia selalu mencari solusi untuk bersaing secara sehat untuk mencari keunggulan dalam beribadah, sadar akan ketidakberuntungan materi tidak menjadikannya patah arang untuk memberikan pengabdian terbaik bagi Allah SWT.

Menjadi kaya atau miskin tentu membutuhkan mental untuk menerima kenyataan. Namun, yang terpenting adalah kesiapan untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah SWT setelah diberi ketentuan satu di antara keduanya.( Agus Taufik Rahman)


Baca Selengkapnya ....

Hilangnya Hafalan 30 Juz

Posted by Unknown Sabtu, 21 Februari 2015 0 komentar
Dulunya Ia Hafal 30 Juz, Semua Hilang Tak Tersisa Kecuali 2 Ayat Saja.
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi'in (270 H) yang HAFAL AL QURAN. Namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya...???
Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..?? Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantulkan cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati 'Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.
Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, "Dimana Al Quranmu yang dulu???"
Ia menjawab, "Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :

"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).
(QS. Al Hijr: 2-3)
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk diakhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (muttafaq ‘alaih).
**Disarikan dari tulisan DR. Hamid Ath Thahir dari buku "Di bawah Kilatan Pedang" (101 Kisah Heroik Mujahidin)

Baca Selengkapnya ....

Berbuat Menuju Setelah Kematian

Posted by Unknown Minggu, 16 November 2014 0 komentar
Ketika dilahirkan, kita diadzani tanpa dishalati. Ketika mati, kita dishalati tanpa diadzani. Antara lahir dan mati hanyalah bagai antara adzan dan shalat, sebuah penantian yang cukup pendek. Ya, penantian yang tidak lama, tapi sangat menentukan nuansa setelahnya.

Dalam penungguan shalat setelah adzan, ada yang menyibukkan diri dengan dzikir, ada yang mengisinya dengan bincang-bincang bermacam hal mulai dari masalah hobby sampai masalah bisnis, ada pula yang sambil tidur-tiduran, serta ada pula yang ketiduran.

Persis manusia yang telah dilahirkan dan menjalani hidup menuju mati: ada yang mengingat Allah, ada yang mengingat makhluk Allah, ada yang hanya ingat urusan dunianya sendiri, ada yang santai-santai seakan tak ada yang harus dipertanggungjawabkan, ada pula yang tidak pernah peduli apapun dan kemudian mati.

Tidak perlu dijelaskan mana yang terbaik. Al-Qur'an telah menjawab, al-Hadits telah menjelaskan dan akal sehat telah mengetahui. Saat ini tinggal bagaimana kita berbuat untuk keadaan paska kematian.

Masa begitu cepat berlalu. Kemarin sudah berganti hari ini, tadi malam telah berganti pagi ini. Pagi ini akan segera berganti siang nanti dan selanjutnya. Wall-'ashri, demi masa. Salam AIM@Alif Lam Mim


Baca Selengkapnya ....

Zuhud Tidak Mesti Miskin

Posted by Unknown Sabtu, 15 November 2014 0 komentar
Ada data menarik yang disampaikan al-Mas’udi dalam kitabnya Muruj al-Dzahab terkait harta kekayaan para sahabat Rasulullah SAW. Zubair bin Al-Awaam meninggalkan 59,8 juta dirham setelah wafat. Konon, beliau memiliki 1.000 budak, 1.000 kuda, 11 rumah megah, juga ratusan hektare tanah dan perkebunan yang tersebar di Madinah, Basrah, Kufah, Fustat dan Iskandariyah. Selain itu, beliau juga seorang saudagar.

Abdurrahman bin Auf saat awal berhijrah ke Madinah tidak memiliki harta sepeser pun. Tapi, tak lama kemudian beliau menjadi orang paling kaya se-Madinah. Menjelang akhir hidupnya, beliau mewasiatkan agar sebagian hartanya dibagikan kepada 100 ahli Badar yang masih hidup. Masing-masing mendapat jatah 400 dinar. Selain itu, beliau memiliki 1.000 budak yang telah dibebaskan, 1.000 unta, 100 kuda, juga 3.000 domba yang digembalakan di Baqi’.
 
Zaid bin Tsabit meninggalkan 300 ribu dinar serta ratusan ton emas dan perak. Ibnu Mas’ud, selain memiliki 50 budak dan hewan ternak, meninggalkan 9.000 ton (mitsqal) emas dan beberapa rumah megah di pelosok-pelosok Irak. Al-Khabab bin al-Irts, sahabat Rasul SAW yang terkenal miskin, di akhir hidupnya mewasiatkan untuk membagi-bagi sisa hartanya yang berjumlah 40 ribu dinar.

Fakta ini menunjukan bahwa para sahabat adalah orang-orang kaya. Tapi, kekayaan mereka tidak lantas membuat mereka lupa akan akhirat. Mereka hidup zuhud. Ali bin Abi Thalib menjelaskan, zuhud tersimpul dalam dua kalimat dalam Alquran, supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.

Orang yang tidak bersedih karena kehilangan sesuatu darinya dan tidak bersuka ria karena apa yang dimiliki, itulah orang yang zuhud. Dari tafsir yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib tersebut, kita dapat melihat dua ciri orang yang zuhud dalam pandangan Allah.

Pertama, Zaid tidak menggantungkan kebahagiaan hidupnya pada apa yang dimilikinya. Zuhud adalah pola hidup menjadi. Zaid tidak memperoleh kebahagiaan dari dengan memiliki. Para sahabat Rasulullah SAW tidaklah membuang semua yang dimilikinya, tetapi mereka menggunakan semuanya itu untuk mengembangkan dirinya. Kebahagiannya tidak terletak pada benda-benda mati, tetapi pada peningkatan kualitas hidupnya.

Kedua, kebahagiaan seorang Zaid tidak lagi terletak pada hal-hal yang duniawi, tetapi pada dataran rohani. Kedewasaan kepribadian jiwa kita terletak pada sejauh mana kecenderungan kita pada hal-hal yang rohani. Makin tinggi tingkat kepribadian kita, kebahagiaan rohani meningkat. Dua prinsip inilah yang dipegang para sahabat.

Al-Ghazali menegaskan, zuhud itu menghilangkan keterikatan hati dengan dunia, tapi bukan berarti menghilangkannya. As-Syadzili, pendiri tarikat sufi As-Syadziliyah, dalam setiap doanya selalu meminta kepada Allah, “Ya Allah luaskanlah rizkiku di dunia dan janganlah ia menghalangiku dari akhirat, jadikanlah hartaku pada genggaman tanganku dan jangan sampai ia menguasai hatiku.”

Para sahabat memiliki kekayaan dunia, tapi tidak punya keterikatan hati dengan materi. Harta bagi mereka hanyalah fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk tujuan hidup. Karena itu, petuah Rasul SAW harus dipegang erat-erat dalam sikap hidup kita, “Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup abadi dan beramalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati besok.” (HR al-Bazzar).


Oleh: Abdul Aziz



Baca Selengkapnya ....

Allah, apa yang telah kami ajarkan?

Posted by Unknown Sabtu, 10 Mei 2014 0 komentar
Seorang gadis yang masih sehat mengutarakan kebenciannya terhadap ibu hamil di kereta api yang tiba-tiba minta duduk. Menurutnya, kenapa para ibu hamil tidak berangkat pagi-pagi dari stasiun yang sekalian jauh untuk memperoleh tempat duduk?

Tak berhenti di sana, adinda kita masih mengomel dan mengecap ibu-ibu hamil yang demikian menyusahkan orang lain. Kalau memang tidak mau susah, mending tidak usah bekerja. Jangan sementang hamil maunya difahami  terus, kalimatnya lagi di social media.

Meski kemudian diikuti permintaan maaf, apa yang disampaikan  kadung melekat di hati masyarakat. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak gadis, mau tidak mau saya memandang putri sulung saya, berpikir jika dia yang berada dalam posisi adinda tersebut, apa yang akan dilakukannya? Apa pendapatnya?

Mendadak saya dihantui kekhawatiran. Allah, apa yang telah kami ajarkan kepada anak-anak kami? Sudahkah mereka ditanamkan simpati dan kepedulian? Empati hingga bisa menghayati situasi sulit  orang lain, lalu terdorong untuk menolong? Atau sebaliknya selama ini kita merasa cukup jika ananda pulang sekolah dengan membawa kertas ulangan bernilai sepuluh. Bangga dengan prestasi dan piala di berbagai bidang, tanpa terusik untuk menelusuri wajah polos mereka lebih dalam, dengan harapan dan doa semoga kita  juga telah membangun kecerdasan emosi dan spiritual ananda?

Sebelumnya berita lain menggemparkan. Sepasang ABG yang berpacaran membunuh mantan pacar sang cowok dengan cara menyetrum dan menyumpal mulut korban dengan kertas koran.

Usia keduanya masih belasan tahun. Dari mana mental sadis dan kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang lain, mereka peroleh? Setelahnya bahkan masih sempat mengucapkan bela sungkawa palsu di social media. Ke mana larinya perasaan iba, kasih dan sayang? Ke mana hilangnya nilai-nilai kemanusiaan?

Lagi hati saya berdetak. Allah, apa yang telah kami ajarkan pada anak-anak kami?

Lupakah kami membasuh hati mereka dengan kelembutan sejak kecil? Khususnya bagi anak-anak lelaki untuk melindungi perempuan di sekitar mereka. Adakah tanpa disengaja kami justru melakukan kekerasan yang tertangkap mata belia mereka hingga menganggapnya sebagai tindakan lumrah? Lalaikah kami menekankan betapa kekerasan bukan jalan penghuni surga?

Tak berhenti di sana, berita duka lain mengguncang jiwa kemanusiaan kita. Satu mahasiswa meninggal dan enam lain luka-luka karena tindak bully yang dilakukan senior mereka dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran.

Terbayang ayah dan ibu korban telah membesarkan anak lelaki mereka dengan susah payah. Mengeluarkan dana agar ananda bisa bersekolah dengan baik dan kelak menjadi manusia berguna bagi bangsa dan Negara.
 
Betapa menyakitkan  bahwa setelah melalui jerih payah bertahun-tahun, kemudian ananda direnggut dari sisi orang tua dan keluarga yang mencintai, justru oleh kakak kelas yang seharusnya mengayomi.

Tindakan bully senior kepada junior yang mengakibatkan korban jiwa telah banyak terjadi di berbagai sekolah tinggi. Bahkan kampus yang seharusnya menciptakan figur berbakti pada masyarakat dan Negara.

Kembali hati saya berduka. Lagi-lagi pertanyaan sama terngiang. Allah, apa yang telah kami ajarkan pada ananda hingga nyawa seakan tak ada harganya di mata mereka? Kenapa arogansi yang menguasai dan bukan jiwa mengayomi yang tumbuh dari para kakak kelas?

Sudah terlalu sering. Sudah terlalu banyak korban. Tidak adakah pihak yang bisa berbuat sesuatu hingga kedukaan serupa tak berulang?

Anak-anak yang dikirim orang tua mereka  melanjutkan sekolah tak seharusnya menanggung resiko diintip kematian karena kekerasan. Di mana bapak dan ibu yang seharusnya mengawasi dan mengawal pendidikan kita? Lebih penting lagi, sejumlah tindakan apa yang telah  dilakukan agar  kasus penganiayaan serupa tak terjadi?

Padahal di luar ini ada persoalan drugs yang seharusnya sejak awal kita tegaskan haram, sama seperti minuman keras. Juga ancaman lain yang mengintai. Seorang remaja putri bercerita tentang teman-teman satu SMP yang sudah melakukan hubungan seks. Lebih parah lagi hal itu dilakukan di rumah anak perempuan. Dalam kebingungannya remaja  ini bertanya,apa yang sebenarnya dilihat anak-anak perempuan itu dari pacar mereka yang jauh dari kriteria lelaki ideal mana pun?

“Dia pemakai drugs, bunda.”

“Pacar teman saya itu bahkan dikeluarkan dari sekolah!”

“Kalau yang saya tahu cowoknya itu brengsek. Kabarnya sudah banyak
menjeblosi  anak gadis orang.”

Mau tidak mau saya menarik napas.

Allah, apa yang sudah kami ajarkan pada anak-anak kami?

Sudahkan kami membimbing untuk bangga mempertahankan kesucian? Untuk menjauhi zina yang merupakan salah satu dosa terbesar? Untuk menghindari laki-laki bejat di sekitar mereka? Jika sudah, lantas bagaimana anak-anak gadis kita bisa terbutakan  dan membiarkan diri dinistakan seseorang yang bahkan baru beberapa saat mereka kenal? Mungkinkah kebebasan serupa mereka lihat dari cara kami para orang tua bergaul? Kami yang tak lagi menghormati institusi pernikahan?

Allah, maafkan ketidakmampuan ini. Maafkan jika sebagai orang tua kami terlalu sibuk dengan persoalan sendiri dan tak hadir ketika anak-anak membutuhkan lebih banyak perhatian dan kasih sayang. Maafkan kami yang tidak peka, yang  lupa mendoakan mereka, juga lalai dalam beribadah pada-Mu. Maafkan kami yang terus mengulang dosa, hingga anak-anak melihat neraka begitu indah, dan karenanya tak tertarik lagi pada surga.

Jika kami yang memberikan contoh buruk itu ya Allah, mohon ampuni, dan beri kami kesempatan memperbaiki. (Oleh: Asma Nadia)

Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of ALI SHOLIHIN'S BLOG.