Doa dan Hikmah Pernikahan

Posted by Unknown Rabu, 12 Juni 2013 0 komentar
Doa dan Hikmah Pernikahan
 
"Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua,
meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
(Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
Filosofi dari Sebuah "Ikatan Pernikahan"


UNTUK SUAMI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ...
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya ...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Amiiin


UNTUK ISTRI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Amiiin

Baca Selengkapnya ....

Seni Menikmati Air Mata

Posted by Unknown Sabtu, 08 Juni 2013 0 komentar
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Qs Aali imran: 185)

Pergantian siang dan malam, bahagia dan duka, juga antara hidup dan mati, Allah pergilirkan sesuai dengan apa yang telah Dia gariskan untuk segenap hamba-hambaNya. Bukan tanpa maksud Allah mempergilirkan segala yang terjadi di langit maupun bumi.

Tujuan dari pergiliran itu adalah agar manusia ‘belajar’ dalam hidupnya. Belajar bahwa untuk mendapatkan kesempurnaan pahala, membutuhkan usaha selama di dunia. Usaha itu salah satunya adalah menanam amal baik kepada Allah dan sesama. Dalam ‘usaha’ pendekatan diri pada Allah itulah bahagia dan duka menemani kita.

Air mata sebagai simbol keikhlasan maupun ketidakrelaan atas ketetapan Tuhan Goresan tinta takdirNya seakan sulit diterima makhluk-Nya. Kendati memang, apapun yang digariskan adalah demi kebaikan hamba-hambaNya.

Airmata adalah anugerah yang Allah berikan sebagai bukti bahwa adakalanya manusia ditimpa cobaan hingga mereka tak sanggup lagi memikulnya, maka Tuhan menjadi sandaranNya agar ia menjadi kuat. Pun saat makhluk tak lagi menjadi ‘sahabat’ untuk semua beban hidup kita, ada Sang Maha Segalanya yang mau meringankan beban hidup, tanpa pandang seberapa berat beban itu. Dalam hal ini, Rasulullah Saw menganjurkan untuk memperbanyak bacaan hauqalah (Laa haula walaa quwwata illa billah) sebagai bukti bahwa kita tak memiliki daya apapun atasNya.

Alquran sebagai sebaik-baiknya pedoman hidup juga berbicara perihal airmata (tangisan). Dua di antaranya ialah tangisan Ahli Kitab saat mereka mengetahui kebenaran Nabi Muhammad Saw. salah satu di antara mereka ialah paman Sayyidatina, Siti Khadijah Waraqah bin Naufal.

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad s.a.w.)”. (Qs al-Maaidah: 83)

Airmata jenis ini dirasakan oleh Ahli Kitab yang hatinya tersentuh oleh sebuah hidayah. Mereka merasa mendapatkan kebenaran atas Alquran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. inilah jenis airmata simbol keharuan yang meninggalkan ketenangan yang luar biasa dahsyat dari Allah Swt.

Airmata kedua ialah airmata Nabiyallah Ya’kub as sebab menahan kerinduan pada anaknya, Yusuf as.

“Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa".
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya." (Qs Yusuf: 84-86)
           
Pada tingkat airmata ini, Ya’qub as sudah memiliki kepasrahan total pada Allah sehingga ia sudah bersahabat dengan airmata dan duka. Kehilangan buah hati yang amat dicintanya disusul kehilangan Bunyamin, putra keduanya, membuat Ya’qub bertambah sedih. Namun, ia nikmati semua itu sebagai buah pengabdian dirinya pada Tuhan.(Oleh. Ina Salma Febriany)
Sumber: republika.co.id



Baca Selengkapnya ....

Salihah

Posted by Unknown Rabu, 05 Juni 2013 0 komentar
Suatu ketika, Haulah binti Tsa’labah mengadukan pertikaian dengan suaminya Aus bin Shamith kepada Rasulullah saw. Menurut dia, suaminya pernah mengatakan kalau dirinya seperti punggung ibu suaminya.

Hal itu diadukan Haulah sebagai perilaku buruk suaminya. Setelah mendengar berita itu, Rasul pun berkata, “Suruh suamimu agar membebaskan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut.”

“Suamiku sudah tua renta dan kemungkinan dia tidak mampu berpuasa,” jawab Haulah. “Kalau begitu, suruhlah untuk memberi makan 60 orang miskin dengan satu orang satu shaq kurma,” ujar Rasul kepada wanita pengadu.

“Suamiku tidak memiliki kurma sebanyak itu Rasulullah,” tegas Haulah. “Kalau bagitu, saya akan membantunya sebagian,” kata Rasul.

“Dan, aku pun nanti akan membantunya sebagian lagi,” Haulah melanjutkan. “Kamu adalah wanita yang baik, pulanglah dan sedekahilah suamimu. Dan jangan lupa, nasihatilah dia,” imbau Rasul. Lalu, Haulah pun pulang dan segera melaksanakan pesan Rasulullah.

Petikan cerita Haulah menggambarkan bagaimana pola seorang perempuan yang sudah merasakan sakit hati karena telah dihina oleh suami.

Secara umum, biasanya hinaan tersebut akan disambut pula dengan hinaan, sehingga terjadi saling menghina. Ataupun, istri diam saja, tetapi berencana untuk menikam dari belakang.

Problematika demikian terbukti adanya. Sering terjadi konflik dalam rumah tangga hanya karena saling menghina serta berkata kasar dan tidak senonoh.

Meskipun sekadar salah memilih kata, hal itu bisa berpotensi menimbulkan perpisahan rumah tangga. Namun, Haulah memberikan contoh perilaku yang berbeda.

Dirinya dengan senang hati mengadukan permasalahan pribadinya kepada Rasulullah untuk meminta pencerahan. Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dijadikan referensi dari langkah Haulah.

Pertama, dia mampu membingkai sakit hatinya dengan kebijakan. Kedua, Haulah berlaku positif serta egaliter dalam menyikapi pertikaian dengan suaminya.

Kedua hal itu seperti dikonsepkan Islam sebagai ciri seorang salihah. Haulah mau berupaya taat dan mampu menyelesaikan segala permasalahan, kemudian mencari solusi bersama (QS 4:34).

Di sisi lain, suami juga mestinya tidak serta-merta mengerdilkan langkah istri. Sebab, hal yang menjadi dasar untuk menemukah islah bukanlah saling mengadu kekuatan, tetapi saling memahami di antara keduanya.

Allah SWT menegaskan pada suami, jika suatu saat seorang suami membenci istrinya, sebaiknya ia bersabar terlebih dahulu.

Bisa saja Allah akan menjadikan istrinya itu sebagai sumber kebaikan (QS 4:19). Menurut Imam Shawi, kejelekan yang ada dalam diri istri nantinya bisa saja menjadi cikal-bakal lahirnya generasi yang lebih baik.

Pada intinya, yang harus dibangun lebih awal sebagai pondasi adalah kesadaran antara suami dan istri. Kemudian, terjadi mufakat di antara keduanya berdasarkan cinta dan barulah terwujud keadaan harmonis di antara suami dan istri.  Wallahu’alam. ( Oleh: Khoriul Anwar Afa)


Baca Selengkapnya ....

Jangan Remehkan Kebaikan

Posted by Unknown Selasa, 04 Juni 2013 0 komentar
Perbuatan yang menurut kita remeh boleh jadi istimewa di mata Allah SWT. Perbuatan yang kita anggap mewah boleh jadi justru tidak berharga menurut Allah SWT

Dalam riwayat yang dituturkan Bukhari dan Muslim dikisahkan, ketika turun ayat sedekah, kaum Mukmin mengangkut barang-barang di atas punggung mereka untuk mendapatkan upah dari jasa mengangkut itu guna disedekahkan. Datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak, orang-orang mencela, ‘Ah, ia hanya pamer saja’. Kemudian datang lagi orang lain lalu bersedekah dengan satu sha kurma, orang-orang mencela, ‘Sebenarnya Allah tidak memerlukan makanan satu sha ini’.

Turunlah ayat, “Orang-orang yang mencela kaum Mukmin yang bersedekah dengan suka rela dan mencela mereka yang tidak memiliki sesuatu untuk sedekah kecuali sebatas kemampuan, maka orang-orang itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS At-Taubah: 79).

Melalui ayat itu, Allah SWT hendak membantah anggapan orang-orang munafik bahwa sedekah yang sedikit tidak ada artinya. Bagi Allah, kebaikan itu tidak dinilai dari segi kualitas, tetapi kuantitas. Alqur’an sendiri menegaskan, yang dilihat oleh Allah SWT adalah mutu perbuatan, bukan banyaknya. “(Dia) yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik perbuatannya.” (QS Al-Mulk: 2).

Bukan berarti memperbanyak perbuatan baik tidak perlu. Yang bijak adalah terus berbuat baik sambil berusaha meningkatkan kualitas kebaikan yang kita lakukan. Dimana saja dan kapan saja, hendaknya kita menyempatkan waktu untuk berbuat baik. Jangan pernah meremehkan sekecil apapun kebaikan. Rasulullah SAW mengajarkan, “Takutlah kamu kepada neraka, meski dengan bersedekah sebutir kurma.” (HR Bukhari). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Jangan pernah kamu meremehkan kebaikan, meski dengan menyambut saudaramu dengan wajah berseri.” (HR Muslim).

Kebaikan yang menurut kita remeh belum tentu demikian di mata Allah SWT. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan, suatu ketika ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sebuah sumur. Hampir saja ia mati karena kehausan, sebelum ada seorang pelacur Bani Israil melihatnya. Wanita itu lalu melepaskan sepatunya kemudian mengambilkan air dan meminumkannya untuk anjing tadi, maka dengan perbuatannya itu diampunilah wanita tersebut. 

Betapa berharga nilai kebaikan di sisi Allah SWT. Terlebih jika pelakunya orang Mukmin. Allah SWT memberikan keutamaan bagi orang Mukmin di atas orang kafir. Menurut Ibnu Abbas, jika orang kafir mengerjakan kebaikan sebesar zarah, niscaya Allah SWT akan melihatnya, tetapi Dia tidak memberinya pahala di akhirat. Sebaliknya, jika orang Mukmin yang mengerjakan kebaikan sebesar zarah, maka Allah SWT akan menerima dan melipatgandakan balasan baginya di akhirat.

Selain meruah, jalan menuju kebaikan juga berongkos murah. Melakukan shalat cukup bermodal tekad. Demikian pula puasa. Zakat dan haji malah hanya dikhususkan bagi orang kaya. Mereka yang tidak memiliki modal harta seperti kaum kaya, ikutlah paket ibadah yang bebas biaya tetapi pahalanya tidak kalah dari mereka.

Dalam riwayat Muslim diceritakan, orang-orang fakir dari golongan Muhajirin datang kepada Rasulullah SAW. Mereka mengadu karena merasa kalah pahala dibanding orang-orang kaya yang memiliki kelebihan harta. Rasulullah SAW lantas bersabda, “Bukankah Allah SWT telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat kamu gunakan untuk bersedekah. Sungguh dalam setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, memerintahkan kebaikan itu sedekah, mencegah kemungkaran itu sedekah, dan bahkan bersetubuh dengan istri juga sedekah.”

Allah SWT memberikan kesempatan secara adil kepada setiap orang untuk berbuat baik. Yang merasa sudah melakukan perbuatan hebat, belum tentu pahalanya lebih besar dari mereka yang hanya mampu melakukan perbuatan kecil. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim, ada tiga golongan yang menghadap Allah SWT dengan segudang kebaikan, tetapi mereka justru dilemparkan ke neraka. Mereka adalah syuhada yang gugur di medan juang tetapi mengharap status pahlawan, cerdik pandai yang mengajarkan ilmu agar disebut ulama, dan orang berharta yang selalu berderma supaya dianggap dermawan.

Kita tidak pernah tahu mana di antara kebaikan kita yang dipandang berkualitas oleh Allah SWT. Perbuatan yang menurut kita remeh boleh jadi istimewa di mata Allah SWT. Perbuatan yang kita anggap mewah boleh jadi justru tidak berharga menurut Allah SWT. Karena itu, sungguh naif ketika kita hanya mau melakukan kebaikan besar, dan mengabaikan kebaikan kecil. (Oleh. M  Husnaini)
Sumber 

Baca Selengkapnya ....

Nasihat Arab Badui

Posted by Unknown Senin, 03 Juni 2013 1 komentar
Seorang Arab Badui pulang dari pengembaraannya. Tidak lama kemudian, Abu Ja’far al-Manshur, seorang Khalifah Abasiyah, memanggilnya. Arab Badui ini diminta untuk bercerita tentang kesan perjalanannya. Khalifah pemoles Baghdad ini bermaksud untuk memastikan bahwa tiada yang semegah Baghdad. 

“Benar!” demikian kesan lelaki Badui yang polos ini. “Baghdad megah, tapi angker. Rajanya sulit ditemui!” Dilanjutkanlah kisah perjalanannya itu dengan membandingkan Chang-an, ibu kota Cina, di mana ia sempat sangat lama berkunjung. “Kotanya rapi, kaisarnya sudah tua namun bijaksana.”

Dengan bersemangat, si Arab Badui ini terus melanjutkan kisahnya. Ketika semakin uzur, kaisar ini mulai kehilangan daya dengar. Dia mulai tuli dan teramat sedih yang mendalam. Para menteri menghiburnya. “Aku sedih bukan meratapi diri, wahai para menteriku,” ujar Kaisar, “aku menyesal sebab kini tidak lagi bisa mendengar langsung keluhan rakyat.”

Sejak saat itu, Sang Kaisar rajin bertandu mengelilingi dan blusukan ke tempat-tempat yang tak terjangkau. Sementara urusan pemerintahan diserahkan kepada salah seorang menteri terbaiknya yang lalu diangkat menjadi perdana menteri (Chen Xiang). Lalu apa yang dikerjakan Sang Kaisar tua ini?

Sang Kaisar semakin tak terkendali dalam “aksi unik”-nya ini. Ia masuk kampung keluar kampung. Rajin dia mendengar keluhan rakyat sekaligus menyemangati mereka. Karena pendengarannya lemah, Kaisar menitahkan agar yang ingin mengajukan masalah, mengenakan pakaian merah dan menuliskannya dalam secarik kertas. 

Atas titahnya, tim khusus kekaisaran segera menindaklanjuti setiap aduan sesuai tingkat pengambil kebijakan, desa hingga pusat. Atas perbuatan kaisar ini, terilhamilah rakyat; baca tulis meningkat, kinerja semakin bersemangat, pemerintahan tertata, dan pada akhirnya Dinasti Tang semakin jaya.

Nah, kesimpulan si Badui ini pada al-Manshur, “Amirul Mukminin tentu lebih berhak melakukan semua hal indah itu dari pada Kaisar Cina. Sebab, Kaisar itu melakukannya demi kemaslahatan dunia. Sementara engkau adalah pemimpin yang dibimbing Alquran dan sunah, di dunia hingga akhirat.”

Seperti kita tahu, Baghdad di masa Abu Ja’far adalah kota terbesar di dunia dengan penduduk tiga juta jiwa. Terbesar kedua setelah Chang-an, ibu kota Dinasti Tang. Puncak Baghdad, tempat tinggal sang penguasa, menjulang tinggi di tengah kota; untuk sampai ke ruang Sang Khalifah, harus melewati 40 lapis penjaga. 

Sementara kepribadian Abu Ja’far, tertulis dengan berlumur darah tinta sejarah. Bengis dan tidak berperikemanusiaan. “Aku takut terciprati darah Ibnu Thawus saat kami bertiga diinterogasi al-Manshour (Abu Ja’far),” ujar Imam Malik menuturkan  tentang kisahnya saat dipanggil bersama Abu Hanifah dan Ibnu Thawus al-Yamani. 

Bagaimana dengan kepemimpinan di negeri ini? Jika tidak ingin tersinggung oleh nasihat Arab Badui atau nanti kotor dalam tinta sejarah, ‘amalan’ Kaisar Chang-an boleh ditiru. Wallahu a’lam. 
(Oleh: Ustaz M Arifin Ilham)



Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of ALI SHOLIHIN'S BLOG.