Nasihat Untuk Anakku

Posted by Unknown Selasa, 10 Juni 2014 0 komentar

Wahai anakku tercinta.
Tetapkanlah Islam sebagai agamamu.
Tetapkanlah Allah sebagai Tuhanmu, dan tiada yg lain selain Dia.
Tetapkanlah Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.
Tetapkanlah Al Qur`an sebagai kitab dan penuntunmu.Wahai cahaya hatiku.
Ucap dua kalimah syahadat disetiap desah nafasmu.
Sembahyanglah lima waktu dalam hari harimu.
Berpuasalah sebulan dalam bulan Ramadhan.
Tunaikanlah haji ke Baitullah Rumah Allah jikalau kau mampu.
Tunaikanlah zakat selagi kau mampu.
Jangan lupakan Infaq Shadakah dan menyantuni mereka yg tidak mampu. Wahai buah hatiku.
Beriman selalu hanya kepada ALLAH SWT
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Malaikat-malaikat
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Kitab-kitab Al Qur`an dan kitab kitab sebelumnya
Berimanlah kepada nabi dan Rasul rasul
Yakinlah dan Berimanlah akan adanya Hari Kiamat
Yakinlah dan Berimanlah kepada Qada dan Qadar Wahai pesona jiwaku.
Hidupmu kelak akan lebih keras dan berat.
Lebih keras dan berat dari kehidupan kami orangtuamu.
Maka bekalkanlah dan perkuat keimanan dan ketaqwaan.
Agar kalian selamat sampai ditujuan hidupmu kelak. Wahai penyempurna hidupku.
Ingatlah dan camkanlah beberapa hal
Bahwa yang singkat itu WAKTU,
Yang dekat itu MATI,
Yang besar itu NAFSU,
Yang berat itu AMANAH,
Yang sulit itu IKHLAS,
Yang mudah itu BERBUAT DOSA
Yang abadi itu AMAL KEBAJIKAN,
Yang akan di investigasi itu AMAL PERBUATAN,
Yang jauh itu MASA LALU.
Persiapkanlah dirimu untuk semua hal itu.Wahai masa depanku.
hiduplah demi akhiratmu
karena itu yang akan abadi kekal selamanya
janganlah kalian hidup demi duniamu
karena itu hanya semu dan bakal termakan waktu Wahai permataku,
Doa orangtuamu selalu menyertaimu.
Semoga Allah selalu membimbingmu.
Semoga Allah selalu meridhoimu.
Semoga Allah selalu mendampingimu.
Dalam setiap langkahmu, doamu dan dalam semua kehidupanmu.

Baca Selengkapnya ....

Allah, apa yang telah kami ajarkan?

Posted by Unknown Sabtu, 10 Mei 2014 0 komentar
Seorang gadis yang masih sehat mengutarakan kebenciannya terhadap ibu hamil di kereta api yang tiba-tiba minta duduk. Menurutnya, kenapa para ibu hamil tidak berangkat pagi-pagi dari stasiun yang sekalian jauh untuk memperoleh tempat duduk?

Tak berhenti di sana, adinda kita masih mengomel dan mengecap ibu-ibu hamil yang demikian menyusahkan orang lain. Kalau memang tidak mau susah, mending tidak usah bekerja. Jangan sementang hamil maunya difahami  terus, kalimatnya lagi di social media.

Meski kemudian diikuti permintaan maaf, apa yang disampaikan  kadung melekat di hati masyarakat. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak gadis, mau tidak mau saya memandang putri sulung saya, berpikir jika dia yang berada dalam posisi adinda tersebut, apa yang akan dilakukannya? Apa pendapatnya?

Mendadak saya dihantui kekhawatiran. Allah, apa yang telah kami ajarkan kepada anak-anak kami? Sudahkah mereka ditanamkan simpati dan kepedulian? Empati hingga bisa menghayati situasi sulit  orang lain, lalu terdorong untuk menolong? Atau sebaliknya selama ini kita merasa cukup jika ananda pulang sekolah dengan membawa kertas ulangan bernilai sepuluh. Bangga dengan prestasi dan piala di berbagai bidang, tanpa terusik untuk menelusuri wajah polos mereka lebih dalam, dengan harapan dan doa semoga kita  juga telah membangun kecerdasan emosi dan spiritual ananda?

Sebelumnya berita lain menggemparkan. Sepasang ABG yang berpacaran membunuh mantan pacar sang cowok dengan cara menyetrum dan menyumpal mulut korban dengan kertas koran.

Usia keduanya masih belasan tahun. Dari mana mental sadis dan kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang lain, mereka peroleh? Setelahnya bahkan masih sempat mengucapkan bela sungkawa palsu di social media. Ke mana larinya perasaan iba, kasih dan sayang? Ke mana hilangnya nilai-nilai kemanusiaan?

Lagi hati saya berdetak. Allah, apa yang telah kami ajarkan pada anak-anak kami?

Lupakah kami membasuh hati mereka dengan kelembutan sejak kecil? Khususnya bagi anak-anak lelaki untuk melindungi perempuan di sekitar mereka. Adakah tanpa disengaja kami justru melakukan kekerasan yang tertangkap mata belia mereka hingga menganggapnya sebagai tindakan lumrah? Lalaikah kami menekankan betapa kekerasan bukan jalan penghuni surga?

Tak berhenti di sana, berita duka lain mengguncang jiwa kemanusiaan kita. Satu mahasiswa meninggal dan enam lain luka-luka karena tindak bully yang dilakukan senior mereka dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran.

Terbayang ayah dan ibu korban telah membesarkan anak lelaki mereka dengan susah payah. Mengeluarkan dana agar ananda bisa bersekolah dengan baik dan kelak menjadi manusia berguna bagi bangsa dan Negara.
 
Betapa menyakitkan  bahwa setelah melalui jerih payah bertahun-tahun, kemudian ananda direnggut dari sisi orang tua dan keluarga yang mencintai, justru oleh kakak kelas yang seharusnya mengayomi.

Tindakan bully senior kepada junior yang mengakibatkan korban jiwa telah banyak terjadi di berbagai sekolah tinggi. Bahkan kampus yang seharusnya menciptakan figur berbakti pada masyarakat dan Negara.

Kembali hati saya berduka. Lagi-lagi pertanyaan sama terngiang. Allah, apa yang telah kami ajarkan pada ananda hingga nyawa seakan tak ada harganya di mata mereka? Kenapa arogansi yang menguasai dan bukan jiwa mengayomi yang tumbuh dari para kakak kelas?

Sudah terlalu sering. Sudah terlalu banyak korban. Tidak adakah pihak yang bisa berbuat sesuatu hingga kedukaan serupa tak berulang?

Anak-anak yang dikirim orang tua mereka  melanjutkan sekolah tak seharusnya menanggung resiko diintip kematian karena kekerasan. Di mana bapak dan ibu yang seharusnya mengawasi dan mengawal pendidikan kita? Lebih penting lagi, sejumlah tindakan apa yang telah  dilakukan agar  kasus penganiayaan serupa tak terjadi?

Padahal di luar ini ada persoalan drugs yang seharusnya sejak awal kita tegaskan haram, sama seperti minuman keras. Juga ancaman lain yang mengintai. Seorang remaja putri bercerita tentang teman-teman satu SMP yang sudah melakukan hubungan seks. Lebih parah lagi hal itu dilakukan di rumah anak perempuan. Dalam kebingungannya remaja  ini bertanya,apa yang sebenarnya dilihat anak-anak perempuan itu dari pacar mereka yang jauh dari kriteria lelaki ideal mana pun?

“Dia pemakai drugs, bunda.”

“Pacar teman saya itu bahkan dikeluarkan dari sekolah!”

“Kalau yang saya tahu cowoknya itu brengsek. Kabarnya sudah banyak
menjeblosi  anak gadis orang.”

Mau tidak mau saya menarik napas.

Allah, apa yang sudah kami ajarkan pada anak-anak kami?

Sudahkan kami membimbing untuk bangga mempertahankan kesucian? Untuk menjauhi zina yang merupakan salah satu dosa terbesar? Untuk menghindari laki-laki bejat di sekitar mereka? Jika sudah, lantas bagaimana anak-anak gadis kita bisa terbutakan  dan membiarkan diri dinistakan seseorang yang bahkan baru beberapa saat mereka kenal? Mungkinkah kebebasan serupa mereka lihat dari cara kami para orang tua bergaul? Kami yang tak lagi menghormati institusi pernikahan?

Allah, maafkan ketidakmampuan ini. Maafkan jika sebagai orang tua kami terlalu sibuk dengan persoalan sendiri dan tak hadir ketika anak-anak membutuhkan lebih banyak perhatian dan kasih sayang. Maafkan kami yang tidak peka, yang  lupa mendoakan mereka, juga lalai dalam beribadah pada-Mu. Maafkan kami yang terus mengulang dosa, hingga anak-anak melihat neraka begitu indah, dan karenanya tak tertarik lagi pada surga.

Jika kami yang memberikan contoh buruk itu ya Allah, mohon ampuni, dan beri kami kesempatan memperbaiki. (Oleh: Asma Nadia)

Baca Selengkapnya ....

Menangani Kecemasan Hidup

Posted by Unknown Jumat, 25 April 2014 0 komentar
“MENDUNG esok pagi jangan sampai menutupi indahnya mentari hari ini.” Demikian kata-kata indah motivasi yang bermakna perlunya menikmati dan mensyukuri setiap anugerah serta tidak perlunya mencemaskan apa yang belum terjadi pada masa yang akan datang.
Masa yang akan datang merupakan misteri yang hanya diketahui oleh Allah, sementara apa yang terjadi adalah takdir yang harus dijalani. Kecemasan akan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang merupakan penyakit jiwa yang bisa berujung pada depresi, stress dan gila. Hati yang senantiasa cemas sangat disenangi syetan untuk ditempati sebagai markas penyusunan niat dan strategi kehidupan yang menyimpang dari kelumrahan tata dan pranata sosial.
Karena itulah agama menekankan urgensi keyakinan, baik sangka, kepatuhan dan kepasrahan pada Allah. Mereka yang memiliki keutuhan iman dan kesempurnaan keberagamaan akan terhindar dari kecemasan yang merusak.
Berbagai media menunjukkan betapa kehidupan saat ini penuh dengan kecemasan. Yang paling marak beritanya minggu-minggu ini adalah kecemasan hidup berujung stress dialami oleh para calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi (wakil rakyat), mulai dari stress tingkat pendahuluan menuju gila, seperti siang malam keliling terus berbicara tentang kampanye dan jumlah suara, sampai pada stress yang secara resmi disimpulkan gila, seperti ke mana-mana menjinjing kursi sambil tertawa dan menangis.
Kecemasan juga melanda beberapa siswa SMA yang baru selesai ujian nasional. Banyaknya materi ujian yang di luar kurikulum dan tingginya tingkat kesulitan soal yang melampaui soal-soal try out benar-benar telah menghapus impian indah mereka untuk secara mudah memilih perguruan tinggi favorit mereka. Kecemasan rupanya menular pada orang tua siswa, yang begitu khawatir dengan biaya tinggi yang harus dibayarkan seandainya anaknya gagal masuk perguruan tinggi negeri.
Para psikolog memberikan saran bagus untuk menangani kecemasan seperti ini, yakni dengan menamkan keyakinan bahwa 80% hal-hal yang dicemaskan sesungguhnya tidak pernah terjadi, 10% mungkin terjadi tetapi pada orang lain, dan hanya 10% saja yang mungkin terjadi pada diri kita. Mencemaskan hal yang hanya 10% dan melupakan untuk mensyukuri hal yang 80% adalah suatu kekeliruan bahkan kebodohan.
Islam mengajarkan tiga hal utama untuk mengobati kecemasan seperti ini. Pertama adalah keyakinan bahwa hidup ini sesungguhnya diatur sangat indah oleh Allah selama kita senantiasa beribadah secara teratur dan indah. Keyakinan seperti ini disebut dengan husn al-dzann bi Allah (baik sangka kepada Allah).
Sangat banyak ayat dan hadits yang memberikan jaminan keindahan hidup yang berdasarkan pada baik sangka seperti ini, sebanyak data sejarah diselamatkannya dan dibahagiakannya orang-orang yang tertimpa musibah tetapi tetap dalam kekokohan keyakinan.
Para nabi dan rasul Allah tidak pernah sedih, gelisah dan cemas karena mereka memiliki keyakinan kuat atas kasih sayang dan pertolongan Allah. Tidak ada satu pun data sejarah yang menyebutkan bahwa ada utusan Allah yang stress, gila atau bunuh diri.
Semuanya menjalani hidup sampai pada titik akhir dengan baik sangka kepada Allah. Sahabat Jabir bercerita bahwa Rasulullah bersabda tiga hari menjelang kewafatannya: “Jangan sampai salah seorang di antara kamu mati kecuali berbaik sangka kepada Allah.”
Kegagalan saat ini bisa jadi merupakan pintu gerbang kesuksesan masa yang akan datang. Sahabat saya yang tidak diterima test Pegawai Negeri Sipil (PNS) saat ini menjadi direktur sebuah perusahaan yang penghasilannya melebihi seorang PNS.
Ada seorang pria yang dulunya kecewa karena gagal mempersunting wanita yang disukainya, saat ini bersyukur karena Allah memberikan ganti yang menurutnya lebih baik; terlebih juga karena ternyata wanita yang disukainya dulu meninggal dunia dua minggu setelah kawin dengan suaminya.
Abraham Lincoln tidak serta-merta menjadi presiden Amerika Serikat melainkan dia harus melalui 32 kegagalan. Nelson Mandela justru dikagumi dan dijadikan presiden serta guru dunia setelah terbukti kesabaran dan kebesaran jiwanya setelah masa dipenjara.
Bukan tidak mungkin bahwa caleg-caleg yang gagal pemilu saat ini adalah pemimpin-pemimpin sukses masa yang akan datang, selama tetap berjiwa besar serta berprilaku positif, sebagaimana juga bukan mustahil bahwa siswa SMA yang nilai UN-nya jelek saat ini akan menjadi orang sukses selama tetap berpegang pada kejujuran dan kebaikan perilaku.
Hal kedua yang mampu mengobati kecemasan adalah doa. Doa merupakan tanda paling nyata berkaitnya hati seorang hamba dengan Tuhannya. Keterkaitan hati seperti ini akan menjadi penyebab turunnya pertolongan Allah yang akan menjadi penghapus kegelisahan dan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya. Allah yang menyuruh kita berdoa dan Allah pula yang berjanji mengabulkannya, dengan firmannya QS 40: 60: “Mintalah engkau kepadaku, maka Aku akan mengabulkannya.”
Doa dengan penuh keyakinan dan optimisme terbukti nyata menjadi penyebab datangnya pertolongan. Ketika Nabi Muhammad dan Abu Bakar dikejar dan akan dibunuh oleh Suraqah yang menunggang kuda terbaik, Abu Bakar berkata kepada Nabi Muhammad bahwa Suraqah akan mendapatkannya. Rasulullan berdoa dan memasrahkan kepada Allah, dan kuda Suraqah terpelanting setiap kali Nabi berdoa. Keajaiban selalu ada bagi mereka yang mau berdoa.
Doa adalah ibadahnya para nabi. Nabi Muhammad bersabda: “Doa adalah senjatanya orang mukmin.” Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan: “Doa adalah otak ibadah.” Ini menunjukkan bahwa doa memiliki posisi penting dan terhormat. Sayangnya banyak manusia yang tidak memahami hal ini sehingga mengkerdilkan fungsi doa, sebagaimana sering terdengar: “Bantulah saya, minimal dengan doa.”
Hal ketiga yang menjadi obat kecemasan adalah dzikr atau ingat kepada Allah. Ketika hati senantiasa diisi dengan dzikir, maka Allah akan menyingkirkan kekecewaan, kesedihan dan kecemasan darinya, dan menggantikan dengan keyakinan, optimisme dan kebahagiaan. Allah berfirman dalam QS 13: 28: “Selalu berdzikirlah (ingatlah) kepada Allah, maka hatimu akan menjadi tenteram.”
Ada seorang wanita yang saat ini telah bertaubat dan menjadi wanita taat serta shalihah. Ia yang telah bersuami dan punya satu anak, tiba-tiba dihubungi oleh mantan kekasihnya dengan mengirimkan foto-foto pornonya dulu dan mengancam untuk menyampaikan kepada suaminya kalau tidak berkenan untuk selingkuh. Hati wanita ini galau penuh kecemasan. Andai ia tidak memiliki Allah, pasti ia sudah bunuh diri.
Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa dan berdzikir disertai tetesan air mata. Dengan mantap dia bercerita apa adanya kepada sang suami. Allah yang meluluhkan hati sang suami, mengubah amarah menjadi keharuan, memaklumi istrinya, menerima apa adanya dan mengagumi ketulusan dan kejujurannya. Lebih dari itu, sang suami menantang laki-laki penggoda itu untuk datang untuk kemudian memasrahkannya kepada kepolisian.
Dahsyat sekali kekuatan baik sangka, doa dan dzikr. Bangsa ini sangat perlu untuk secara bersama berdoa dan berdzikir serta saling memotivasi untuk tetap optimis dan bersyukur. Sangat diharapkan bahwa pemimpin yang akan datang adalah orang-orang yang berwajah optimis, tegas dalam prinsip, mau berdoa dan berzikir bersama rakyat, serta jujur dalam janji-janjinya.
Allah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yag dilintasi garis khatulistiwa sangat berkuasa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang istimewa. (Oleh: Ahmad Imam Mawardi)
Sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/2094816/menangani-kecemasan-hidup#.U1pbA_uqAwo

Baca Selengkapnya ....

Ucapan Ulang Tahun Untuk Istriku

Posted by Unknown Sabtu, 11 Januari 2014 5 komentar



Dear Istriku,

Usiamu kini telah bertambah
begitupula akan pengalaman hidup
begitu pula akan amal ibadah yang telah diperbuat
sebuah keharusan untuk kita bersyukur Pada-Nya
dan mengharapkan akan lebih baik kedepannya

nikmat hidup, nikmat kesehatan adalah sebuah anugerah
pengalaman hidup bersama kita jadikan modal
bahwa kita bisa lebih baik lagi
dan bisa lebih bersyukur lagi

anggap saja masalah adalah sebuah tangga
yang akan menguji kita
yang menyatakan bahwa kita sanggup untuk mengatasi masalah

Ukirlah harimu dengan penuh warna amal kebaikan
sambutlah setiap saat akan waktumu dengan penuh optimisme
sandarkanlah semuanya pada sebuah nilai ibadah
lakukanlah pekerjaanmu dengan penuh keikhlasan
aku akan bersamamu,
insya Allah selamanya

Selamat Ulang Tahun Istriku.

Baca Selengkapnya ....
Ricky Pratama's Blog support EvaFashionStore.Com - Original design by Bamz | Copyright of ALI SHOLIHIN'S BLOG.