“MENDUNG
esok pagi jangan sampai menutupi indahnya mentari hari ini.” Demikian kata-kata
indah motivasi yang bermakna perlunya menikmati dan mensyukuri setiap anugerah
serta tidak perlunya mencemaskan apa yang belum terjadi pada masa yang akan
datang.
Masa yang akan datang merupakan misteri yang hanya diketahui oleh Allah,
sementara apa yang terjadi adalah takdir yang harus dijalani. Kecemasan akan
apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang merupakan penyakit jiwa yang
bisa berujung pada depresi, stress dan gila. Hati yang senantiasa cemas sangat
disenangi syetan untuk ditempati sebagai markas penyusunan niat dan strategi
kehidupan yang menyimpang dari kelumrahan tata dan pranata sosial.
Karena itulah agama menekankan urgensi keyakinan, baik sangka, kepatuhan dan
kepasrahan pada Allah. Mereka yang memiliki keutuhan iman dan kesempurnaan
keberagamaan akan terhindar dari kecemasan yang merusak.
Berbagai media menunjukkan betapa kehidupan saat ini penuh dengan kecemasan.
Yang paling marak beritanya minggu-minggu ini adalah kecemasan hidup berujung
stress dialami oleh para calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi (wakil
rakyat), mulai dari stress tingkat pendahuluan menuju gila, seperti siang malam
keliling terus berbicara tentang kampanye dan jumlah suara, sampai pada stress
yang secara resmi disimpulkan gila, seperti ke mana-mana menjinjing kursi
sambil tertawa dan menangis.
Kecemasan juga melanda beberapa siswa SMA yang baru selesai ujian nasional.
Banyaknya materi ujian yang di luar kurikulum dan tingginya tingkat kesulitan
soal yang melampaui soal-soal
try out benar-benar telah menghapus
impian indah mereka untuk secara mudah memilih perguruan tinggi favorit mereka.
Kecemasan rupanya menular pada orang tua siswa, yang begitu khawatir dengan
biaya tinggi yang harus dibayarkan seandainya anaknya gagal masuk perguruan
tinggi negeri.
Para psikolog memberikan saran bagus untuk menangani kecemasan seperti ini,
yakni dengan menamkan keyakinan bahwa 80% hal-hal yang dicemaskan sesungguhnya
tidak pernah terjadi, 10% mungkin terjadi tetapi pada orang lain, dan hanya 10%
saja yang mungkin terjadi pada diri kita. Mencemaskan hal yang hanya 10% dan
melupakan untuk mensyukuri hal yang 80% adalah suatu kekeliruan bahkan
kebodohan.
Islam mengajarkan tiga hal utama untuk mengobati kecemasan seperti ini.
Pertama adalah keyakinan bahwa hidup ini sesungguhnya diatur sangat indah oleh
Allah selama kita senantiasa beribadah secara teratur dan indah. Keyakinan
seperti ini disebut dengan
husn al-dzann bi Allah (baik sangka kepada
Allah).
Sangat banyak ayat dan hadits yang memberikan jaminan keindahan hidup yang
berdasarkan pada baik sangka seperti ini, sebanyak data sejarah diselamatkannya
dan dibahagiakannya orang-orang yang tertimpa musibah tetapi tetap dalam
kekokohan keyakinan.
Para nabi dan rasul Allah tidak pernah sedih, gelisah dan cemas karena
mereka memiliki keyakinan kuat atas kasih sayang dan pertolongan Allah. Tidak
ada satu pun data sejarah yang menyebutkan bahwa ada utusan Allah yang stress,
gila atau bunuh diri.
Semuanya menjalani hidup sampai pada titik akhir dengan baik sangka kepada
Allah. Sahabat Jabir bercerita bahwa Rasulullah bersabda tiga hari menjelang
kewafatannya: “Jangan sampai salah seorang di antara kamu mati kecuali berbaik
sangka kepada Allah.”
Kegagalan saat ini bisa jadi merupakan pintu gerbang kesuksesan masa yang
akan datang. Sahabat saya yang tidak diterima test Pegawai Negeri Sipil (PNS)
saat ini menjadi direktur sebuah perusahaan yang penghasilannya melebihi
seorang PNS.
Ada seorang pria yang dulunya kecewa karena gagal mempersunting wanita yang
disukainya, saat ini bersyukur karena Allah memberikan ganti yang menurutnya
lebih baik; terlebih juga karena ternyata wanita yang disukainya dulu meninggal
dunia dua minggu setelah kawin dengan suaminya.
Abraham Lincoln tidak serta-merta menjadi presiden Amerika Serikat melainkan
dia harus melalui 32 kegagalan. Nelson Mandela justru dikagumi dan dijadikan
presiden serta guru dunia setelah terbukti kesabaran dan kebesaran jiwanya
setelah masa dipenjara.
Bukan tidak mungkin bahwa caleg-caleg yang gagal pemilu saat ini adalah
pemimpin-pemimpin sukses masa yang akan datang, selama tetap berjiwa besar
serta berprilaku positif, sebagaimana juga bukan mustahil bahwa siswa SMA yang
nilai UN-nya jelek saat ini akan menjadi orang sukses selama tetap berpegang
pada kejujuran dan kebaikan perilaku.
Hal kedua yang mampu mengobati kecemasan adalah doa. Doa merupakan tanda
paling nyata berkaitnya hati seorang hamba dengan Tuhannya. Keterkaitan hati
seperti ini akan menjadi penyebab turunnya pertolongan Allah yang akan menjadi
penghapus kegelisahan dan jawaban atas permasalahan yang dihadapinya. Allah
yang menyuruh kita berdoa dan Allah pula yang berjanji mengabulkannya, dengan
firmannya QS 40: 60: “Mintalah engkau kepadaku, maka Aku akan mengabulkannya.”
Doa dengan penuh keyakinan dan optimisme terbukti nyata menjadi penyebab
datangnya pertolongan. Ketika Nabi Muhammad dan Abu Bakar dikejar dan akan
dibunuh oleh Suraqah yang menunggang kuda terbaik, Abu Bakar berkata kepada
Nabi Muhammad bahwa Suraqah akan mendapatkannya. Rasulullan berdoa dan
memasrahkan kepada Allah, dan kuda Suraqah terpelanting setiap kali Nabi
berdoa. Keajaiban selalu ada bagi mereka yang mau berdoa.
Doa adalah ibadahnya para nabi. Nabi Muhammad bersabda: “Doa adalah
senjatanya orang mukmin.” Dalam hadits yang lain, beliau menyatakan: “Doa
adalah otak ibadah.” Ini menunjukkan bahwa doa memiliki posisi penting dan
terhormat. Sayangnya banyak manusia yang tidak memahami hal ini sehingga
mengkerdilkan fungsi doa, sebagaimana sering terdengar: “Bantulah saya, minimal
dengan doa.”
Hal ketiga yang menjadi obat kecemasan adalah dzikr atau ingat kepada Allah.
Ketika hati senantiasa diisi dengan dzikir, maka Allah akan menyingkirkan
kekecewaan, kesedihan dan kecemasan darinya, dan menggantikan dengan keyakinan,
optimisme dan kebahagiaan. Allah berfirman dalam QS 13: 28: “Selalu
berdzikirlah (ingatlah) kepada Allah, maka hatimu akan menjadi tenteram.”
Ada seorang wanita yang saat ini telah bertaubat dan menjadi wanita taat
serta shalihah. Ia yang telah bersuami dan punya satu anak, tiba-tiba dihubungi
oleh mantan kekasihnya dengan mengirimkan foto-foto pornonya dulu dan mengancam
untuk menyampaikan kepada suaminya kalau tidak berkenan untuk selingkuh. Hati
wanita ini galau penuh kecemasan. Andai ia tidak memiliki Allah, pasti ia sudah
bunuh diri.
Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa dan berdzikir disertai tetesan air
mata. Dengan mantap dia bercerita apa adanya kepada sang suami. Allah yang
meluluhkan hati sang suami, mengubah amarah menjadi keharuan, memaklumi
istrinya, menerima apa adanya dan mengagumi ketulusan dan kejujurannya. Lebih
dari itu, sang suami menantang laki-laki penggoda itu untuk datang untuk
kemudian memasrahkannya kepada kepolisian.
Dahsyat sekali kekuatan baik sangka, doa dan dzikr. Bangsa ini sangat perlu
untuk secara bersama berdoa dan berdzikir serta saling memotivasi untuk tetap
optimis dan bersyukur. Sangat diharapkan bahwa pemimpin yang akan datang adalah
orang-orang yang berwajah optimis, tegas dalam prinsip, mau berdoa dan berzikir
bersama rakyat, serta jujur dalam janji-janjinya.
Allah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yag dilintasi garis
khatulistiwa sangat berkuasa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang
istimewa. (Oleh: Ahmad Imam Mawardi)
Sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/2094816/menangani-kecemasan-hidup#.U1pbA_uqAwo